Saturday, December 3, 2011
Tentang Minggu Ini ♥♥
Kali ini saya hanya ingin menceritakan sedikit tentang hal-hal yang saya alami selama satu minggu ini, mulai dari hal-hal yang menyenangkan hingga yang menyebalkan. 
Pertama:
Sabtu lalu selesai ibadah Youth di GBI Tabqa, saya bertemu dengan kawan lama saya, kawan SD & SMP. Namanya Michael, lengkapnya Michael Norres. Wah, sungguh di luar dugaan, ternyata Tuhan mempertemukan kawan lama melalui perkenan-Nya, bertemu di gereja, membuat saya sungguh terharu akan kasih-Nya. Karena satu hal yang membuat saya terkejut yaitu, dia berubah total. Ya, berubah drastis. Sampai saya dan kawan saya pun "terpesona" melihatnya
. Haha....
Bukan karena ketampanannya (mungkin juga karena itu sedikit :P), tetapi yang saya tahu sejak SD sampai dengan SMP, dia adalah anak yang bandel, anak yang malas belajar, ya bisa dibilang bocah yang paling sulit di atur (sorry Michael .... :D). Melihatnya sekarang yang datang ke gereja, statusnya yang paling sering mendengar lagu-lagu rohani, status facebooknya yang selalu mengaitkannya dengan ayat-ayat Alkitab dan motivasi yang membangun secara rohani, dan sikapnya yang jauh lebih baik, saya rasa dia benar-benar telah diubahkan 180 derajat, tentunya diubahkan oleh kuasa Roh Kudus dari-Nya
.
Tentu ini menjadi sukacita luar biasa, melihat kawan, sahabat, saudara, bisa diubahkan secara luar biasa.
Kedua:
Kemarin, tepatnya 2 Desember 2011, kami COG diundang oleh pemuda GPdi Pelita, Joshua Generation Community merayakan perayaan Natal Pemuda JG "True Christmas Spirit". Dilemma, karena acara dimulai pukul 18.30 WIB, sedangkan saya ada kuliah Lab. Advance pukul 18.55 WIB. Di satu sisi saya merasa sangat haus akan FirTu dan rindu untuk memuji Dia bersama saudara/i seiman lainnya, hal itu mungkin karena saya merasa mulai menjauh dari-Nya, dan hal itu yang terkadang membuat saya merasa masalah yang saya hadapi semakin pelik dikala Tuhan sendiri telah mengulurkan tangan-Nya untuk menopangku serta menguatkanku. Saya tahu bahwa JG Christmas Celebration ini akan memberikan makna yang luar biasa seperti tahun sebelumnya. Di sisi lain, Lab. Advance minggu lalu ditunda pertemuannya karena demo yang berakhir rusuh Jumat lalu, sehingga kalau minggu ini tidak masuk, kemungkinan saya akan kesulitan mempelajarinya. Setelah berbagai pertimbangan dan memang hati saya lagi ga mood dengan Lab. Advance, akhirnya saya memutuskan menghadiri Natal JG di GPdi Pelita
.
Saya pikir akan jauh lebih banyak yang saya dapatkan jika menghadirinya dibanding duduk di kelas, sekedar mencatat dan meng-copy paste jawaban dari ass. doss.
Bagi saya ini juga menjadi suatu sukacita yang Tuhan berikan pada saya.
Ketiga:
Semalam, salah satu kawan saya curhat mengenai masalah keluarganya. Ayahnya berselingkuh dengan perempuan lain, dan ia bertengkar hebat dengan ayahnya saat itu juga
. Saat saya tanyakan, ternyata itu memang sudah jadi kebiasaan buruk ayahnya yang sulit ditinggalkan. Hal itu yang membuat teman saya sakit hati, dan terlebih ayahnya sama sekali tidak merasa bersalah ataupun berniat meminta maaf, sebaliknya akibat pertengkaran hebat mereka, ayahnya merasa bahwa teman saya tidak pantas untuk dimaafkan. Sedih saya mendengarnya, terlebih setelah tahu bahwa ibu teman saya hanya pasrah dan terus mendoakan suaminya agar kebiasaan itu dihilangkan. Saya sangat salut dengan ketegaran ibu kawan saya itu. Seorang ibu yang menciba tetap tegar dihadapan sang anak, sang ibu yang mencoba tetap tersenyum meski hatinya menangis menjerit, seorang istri yang mencoba menghormati suaminya meski penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun sejak menikah belum juga berakhir. Sungguh menyentuh hati saya, yang membuat saya merasa bahwa saya hanya sebagian kecil saja dari masalah-masalah yang saya hadapi
.
Saya hanya bisa mencoba menguatkan dan tetap memberi dukungan dalam doa serta tetap memotivasinya untuk bisa menjadi seorang yang sukses dan tetap kuat seperti ibunya.
Meski hal ini membuat saya sedih, namun hal ini juga memberikan pelajaran betapa perlunya ketegaran seorang ibu dalam rumah tangga dan betapa sulitnya menjaga keutuhan rumah tangga jika tidak mengandalkan Tuhan Yesus
.
Masih ada satu hal lagi, yang membuat hati saya sedikit berbunga-bunga. Hahaha....
Setelah sekian lama sejak saya putus dengan pasangan saya yang terakhir, ini pertama kali ada seorang yang mengatakan "dandan yang cantik ya"
. Meski hanya sebuah kata sederhana, tapi saya sangat jarang yang namanya berpenampilan berbeda untuk seseorang.
Jadi ingin merasakan hal-hal yang dulu pernah saya alami
, tapi ketakutan itu masih terus ada dibenakku, sulit untuk melupakannya
.
Friday, December 2, 2011
Novel baru Karya Dosen Tercinta, Yenny Fyfy! ♥♥
Ini dia novel yang ditunggu-tunggu,
"Waktu Queen Dijodohkan" karya Yenny Fyfy. Yupz, beliau adalah salah satu dosen kami yang luar biasa, cukup mengagetkan kami mahasiswanya saat mengetahui kalau beliau ternyata memiliki hobby menulis novel. Ingin tahu ringkasan ceritanya?, berikut sipnosis singkat "Waktu Queen Dijodohkan" :
Apa sih enaknya dijodohin? Lagipula, di jaman seperti sekarang ini masakkan masih ada perjodohan sih? Queen jengkel bukan kepalang.
Dia mencari cara agar bisa terlepas dari perjodohan itu. Jeoung Jun, yah, laki-laki tampan inilah yang akan membebaskanku, begitu pikir Queen.Sandiwara cinta antara Queen dan Jeoung Jun berjalan baik. Perjodohan pun dibatalkan.
Queen merasa lega, tapi ternyata kelegaan itu tidak bertahan lama. Pasalnya, belakangan Queen baru mengetahui kalau laki-laki yang dijodohkan dengannya adalah laki-laki sempurna. Benar-benar sempurna seperti pangeran yang ada di negri dongeng.
Queen menyesal, rasanya ia baru saja mencampakkan berlian. Haruskan Queen menarik kata-kata penolakan itu? Haruskah ia berlari mengejar Radit, laki-laki sempurna itu, agar kembali menerima perjodohan mereka? Di satu sisi, ternyata Jeoung Jun justru menikmati jalinan cinta sandiwaranya dengan Queen.
Penasaran gimana cerita selanjutnya?? Buruan ke toko gramedia terdekat, jangan sampai kehabisan ya! ♥♥♥ ^^
Tetap terus berkarya ya, Ce Yenny! HWAITING!!
Apa sih enaknya dijodohin? Lagipula, di jaman seperti sekarang ini masakkan masih ada perjodohan sih? Queen jengkel bukan kepalang.
Dia mencari cara agar bisa terlepas dari perjodohan itu. Jeoung Jun, yah, laki-laki tampan inilah yang akan membebaskanku, begitu pikir Queen.Sandiwara cinta antara Queen dan Jeoung Jun berjalan baik. Perjodohan pun dibatalkan.
Queen merasa lega, tapi ternyata kelegaan itu tidak bertahan lama. Pasalnya, belakangan Queen baru mengetahui kalau laki-laki yang dijodohkan dengannya adalah laki-laki sempurna. Benar-benar sempurna seperti pangeran yang ada di negri dongeng.
Queen menyesal, rasanya ia baru saja mencampakkan berlian. Haruskan Queen menarik kata-kata penolakan itu? Haruskah ia berlari mengejar Radit, laki-laki sempurna itu, agar kembali menerima perjodohan mereka? Di satu sisi, ternyata Jeoung Jun justru menikmati jalinan cinta sandiwaranya dengan Queen.
Penasaran gimana cerita selanjutnya?? Buruan ke toko gramedia terdekat, jangan sampai kehabisan ya! ♥♥♥ ^^
Tetap terus berkarya ya, Ce Yenny! HWAITING!!
Monday, November 21, 2011
Happy Birthday Mom!! ♥♥
Dear Beloved Mom
Untuk mamaku tercinta..
Hari ini, adalah Hari yang penuh dengan sukacita melimpah.
Setiap Hari…setiap jam…setiap menit..setiap detik…tak kan terlewatkan untuk saling merindu…
Meski jarak yang membuat Hati ini sakit karena tak dapat bertatap langsung untuk tertawa bercanda bersama, meski aku tak dapat mendengar omelan mama saat ini, tapi tetap saja mama Ada didalam hatiku.
Jangan terpengaruh oleh ucapan orang diluar sana yang mungkin saja setiap saat dapat membuatmu sakit, tutup saja telingamu, rasakan Dan imani bahwa apa yang saat ini kita punya adalah anugerah daripadaNya.
Tetap bersyukur, karna ku selalu bersyukur memiliki seorang ibu sepertimu, mama.
Mama, bahagialah semasa hidupmu
Tetap berpegang teguh pada iman percaya kita
Jangan pernah putus asa
Dan tersenyumlah selalu
Agar mama tetap terlihat cantik Dan yg tercantik dirumah kita.
I Love u Mom!
Sayangku selalu untukmu..selamanya..
Anakmu tercinta.
(˘⌣˘)ε˘`)
Untuk mamaku tercinta..
Hari ini, adalah Hari yang penuh dengan sukacita melimpah.
Setiap Hari…setiap jam…setiap menit..setiap detik…tak kan terlewatkan untuk saling merindu…
Meski jarak yang membuat Hati ini sakit karena tak dapat bertatap langsung untuk tertawa bercanda bersama, meski aku tak dapat mendengar omelan mama saat ini, tapi tetap saja mama Ada didalam hatiku.
Jangan terpengaruh oleh ucapan orang diluar sana yang mungkin saja setiap saat dapat membuatmu sakit, tutup saja telingamu, rasakan Dan imani bahwa apa yang saat ini kita punya adalah anugerah daripadaNya.
Tetap bersyukur, karna ku selalu bersyukur memiliki seorang ibu sepertimu, mama.
Mama, bahagialah semasa hidupmu
Tetap berpegang teguh pada iman percaya kita
Jangan pernah putus asa
Dan tersenyumlah selalu
Agar mama tetap terlihat cantik Dan yg tercantik dirumah kita.
I Love u Mom!
Sayangku selalu untukmu..selamanya..
Anakmu tercinta.
(˘⌣˘)ε˘`)
Saturday, September 24, 2011
Serangan Cokelat
Bertahun-tahun lalu aku pergi ke San Fransisco bersama suamiku, tempat kami diundang ke pesta koktail oleh satu pasangan yang tinggal di sebuah apartemen dengan tiga dinding jendela menghadap ke arah kota dan teluk. Apartemen itu cantik, tuan rumahnya ramah dan baik, tapi satu-satunya hal yang terus melekat dalam benakku selama bertahun-tahun ini adalah komentar si perempuan bahwa dia membiarkan dirinya sendiri menikmati satu Herseys's Kiss setiap hari.
Aku sendiri secara agak rutin mengalami desakan akan cokelat dan belum pernah mendapati bahwa satu Hersey's Kiss, tak peduli betapapun lezatnya, akan memuaskan kebutuhan itu.Berminggu-minggu kemudian aku berada di supermarket dan nafsu akan cokelat menjadi begitu kuat. Aku berusaha mengalihkan pikiranku sendiri memunguti sekantong ceri dan sewadah blueberry, yang keduanya amat kusuku. Aku juga mengambil kembal kol, beberapa cabai, pisang, dan bawang ungu. Aku yakin makanan bagus untukmu ini akan mehilangkan nafsuku itu.
Permen cokelat ada di lorong yang sama dengan pasta, jadi kalau membutuhkan pasta, aku harus melintasi lorong ini. Aku merasa cukup percaya diri untuk masuk di ujung lorong permen itu, merasakan desakanku untuk cokelat telah menurun. Kebetulan sekali, sedang ada obral Hersey's Kiss kantong besar, tertera dalam tulisan hitam tebal. Aku berhenti dan mengambil satu kantong. Benda itu membuat dirinya sendiri berada di sekeliling tanganku seolah-olah memintaku mengajaknya pulang. Aku meletakkannya dan benda itu bersera kepadaku, "Kau bisa memakan satu saja."Satu itu melirik ke semua buah dan sayuran, kemudian dengan acuh tak acuh meletakkan satu kantong Kiss ke dalamnya bersama belanjaanku. Aku melanjutkan berbelanja, mendapatkan apa yang kami butuhkan. Ada daging, keju, susu, daging gulung, dan berbagai barang dari kertas. Aku bisa mengambil atau meninggalkan mana saja diantaranya, tapi ketika masing-masing barang ditambahkan ke dalam kereta, aku berpikir tentang mengembalikan Hersey's Kisses ke dalam raknya.
Aku memikirkan perempuan di San Fransisco itu dan berkata kepada diri sendiri, Kalau dia bisa melakukannya, aku juga bisa, dan meletakkan permen cokelat itu di konter bersama bahan makanan lainnya. Aku pulang dan membongkar barang-barang dari mobil dan melanjutkannya untuk menatanya. Sebagian masuk kulkas, sebagian ke ruang penyimpanan bahan makanan, kemudian Kisses cokelat itu ada di tanganku. Di mana aku bisa meletakkannya? Well, tolol, kataku kepada diri sendiri, letakkan saja di ruang penyimpanan bahan makanan dengan semua yang lain. Kau hanya akan makan satu, demi kebaikan. Jadi pergilah cokelat itu ke sana.
Saat itu lewat tengah hari dan aku merasa lapar. Aku membanggakan diri hanya karena hanya makan siang ringan. Aku bahkan menyombongkannya. Ketika suamiku pulang, dia menyombongkan tentang makan siangnya yang ringan. Kami saling menyombongkan diri. Di hari itu aku makan keju cottage rendah lemak dengan melon honeydew segar dan air seltzer berasa ceri. Aku menghabiskannya, merasa kuat, dan memutuskan membuka Kisses dan makan hanya satu.
Aku mengeluarkan kemasan itu dari lemari, mengambil gunting, dan memotong sudutnya. Dua Kisses perak keluar dari kantong. Aku meletakkan kantong dan memungut cokelat itu. Well, dua tidak akan melukai, pikirku. Lagipula makan siangku tadi hanya ringan. Aku membuka pembungkus perak itu, melihatnya jatuh ke meja bersama secuil kertas dengan tulisan "Kisses" tercetak di atasnya. Aku meletakkan cokelat itu ke dalam mulutku dan merasakannya hangat serta melelh saat aku menggersernya ke satu sisi untuk mengunyahnya. Cokelat itu kedua masuk dengan sama mudahnya. Kantong itu masih ada di meja, jadi aku pun memutuskan makan beberapa lagi sambil membaca koran. Lubang di kantong itu jadi sedikit lebih besar dan empat cokelat jatuh keluar. Well, aku akan mengigiti ini sambil membaca.
Ketika aku selesai membaca koran, segundukan pembungkus keperakan teronggok di sebelahku, juga semua helaian kertas kecil itu. Aku merasa takut dan malu. Aku meraup semuanya dan meremasnya menjadi satu bola kecil, kemudian membenamkannya ke tempat sampah. Aku menemukan pengikat pilin dari laci dan mengikat kantong Kisses itu. Sebelum mengembalikannya ke lemari, dengan enggan aku membaca panel kalori di samping kantong. Dalam delapan keping terkandung 210 kalori. Aku suka memandang langsung darinya. Tidak ada penunjukkan tentang ukuran penyajian atau apa pun. Kalau makan delapan Hersey's Kisses, kau mengonsumsi 210 kalori.
Aku tak yakin berapa banyak yang sudah kumakan, dan aku sudah melenyapkan pembungkusnya sehingga aku tak bisa memeriksanya, dan selain itu, aku tidak ingin tahu. Kerusakan telah terjadi. Aku membesarkan hatiku sendiri. Aku memutuskan perempuan di San Francisco itu pasti sudah membesar-besarkan, meski kelihatannya dia bukan tipe seperti itu. Aku berkata kepada diri sendiri tak setiap hari aku melampaui batas, dan bagaimanapun, aku tidak ingin perusahaan Hersey's bangkrut.
Suamiku pulang dan bercerita dia tadi makan salad tuna dengan selada, tomat, dan bawang bombai. Kukatakan kepadanya aku makan keju cottage dan buah.
Pasti ada rahasia tertentu dalam penikahan. Jangan bilang aku salah. Kami sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Cokelat membuat suamiku kesal. Menurutnya cokelat itu jahat dan dia mengerutkan kening ketika aku menyarankan membeli fudge. "Bisa-bisanya kau ini?" begitu dia akan bilang, dan aku pun tak melakukannya. Lebih baik aku memanjakan diri sendirian. Kenapa harus membuat pria itu kesal?
Aku tahu tak mungkin makan satu Hersey's Kisses, dan aku masih punya tiga perempat kantong di ruang penyimpanan makanan. Aku lebih bisa tak makan sekali ketimbang makan hanya satu, jadi ku putuskan meletakkan sisa kantong dalam frezzer, dan ketika serangan cokelat lain mencengkeramku, aku akan mengambil kantong itu dari sana - dan menikmatinya!
Lynne MacKnight
Chicken Soup for The Chocolate Lover's Soul
Thursday, September 22, 2011
Welcome Semester Ganjil (V)
Minggu ini merupakan minggu pertama memasuki semester ganjil, bagiku sekarang sudah semester 5, angkatan ke-4 di kampus kesayanganku, Universitas Internasional Batam (UIB). Meski sejujurnya saya sangat kesal dengan kampus yang biayanya bahkan ternyata melebihi biaya kuliah di Telkom Bandung, tapi saya adalah mahasiswa kampus ini yang akan menjadi alumni kampus ini, ibarat anak yang harus menghargai orang tuanya, begitu pun saya tetap menghargai kampus UIB ini
.
Semester ini akan menjadi semester terakhir untuk bisa bersantai karena semester depan sudah memasuki semester N E R A K A --) kata di Pak Hendru C. Ya, mata kuliah untuk semester ini terasa jauh lebih berat dari semester-semester sebelumnya, namun itu semua bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mata kuliah yang akan kami tempuh di semester depan
(KP dan MetPen).
Jurusan Akuntansi ternyata bukan jurusan yang mudah untuk diikuti, terlebih saya yang memang dari dulu tidak berminat di Akuntansi harus memaksa diri saya untuk menyukai mata kuliah yang ada di program studi ini. Sungguh melelahkan.
Oh ya, beberapa hari ini cuaca selalu tidak bersahabat, setiap hari hujan, meski ga tentu jamnya, dan cuaca yang tidak bisa ditebak. Kadang cerah, dalam hitungan detik hujan gerimis dan hujan lebat datang begitu saja tanpa permisi. Tapi ini juga menjadikan diriku semakin bersemangat, membuktikan bahwa tanda-tanda Christmass mendekat. Sudah tidak sabar merasakan natal di Batam, karena untuk tahun ini saya tidak bisa pulang ke rumah di Palembang (cuti habis). Ingin mempersiapkan diri buat natalan di Singapore, semoga bisa. Amin.... Buat teman-teman yang saat ini sama dengan saya, yang rajin ya belajarnya, semoga semester kali ini bisa lebih berusaha lagi dan lebih baik lagi.
GAMBATE!!
Wednesday, September 21, 2011
Sekeping Uang Lima Sen dan Cake Cokelat dengan Candy-Bar Icing
Apa manfaat amunisi dalam pertempuran?
Alih-alih aku selalu membawa cokelat
Dulu aku tinggal bersama orangtuaku di pertanian yang sama dengan kakek-nenekku, tetapi di rumah terpisah. Ibu nenekku meninggal ketika aku berumur dua tahun. Grandma tidak pernah bicara tentang keluarganya, jadi aku pun berasumsi dia tak punya keluarga.
Suatu Minggu petang, setelah selesai melakukan pemerahan susu, kami tengah mengalirkan susu melewati pemisah krim besar ketika Grandma berkata, "Aku punya cake paling hebat hari ini, dark chocolate dengan candy-bar icing."
"Apa itu candy-bar icing?" tanyaku dengan mulut mulai mengeluarkan air liur dan otak mulai membayangkan mahakarya itu. Aku mulai merencanakan cara mendapatkan sebagian darinya.
"Gertie mengunjungiku hari ini. Dia selalu membuat cake paling hebat dan dia membuat topping dari candy-bar cokelat yang luar biasa nikmatnya," sahut Grandma sembari menuangkan seember susu lagi ke dalam penyaring di atas mangkok pemisah.
Saat itu dia menyandarkan tubuh ke belakang ke tembok, aku merasa melihat air mata bermain-main di sudut matanya."Siapa itu Gertie?," tanyaku.
Dia bercerita kepadaku Gertie adalah satu-satunya saudaranya yang masih hidup dan terakhir kali mereka berbicara adalah di pemakaman ibu mereka lima belas tahun sebelumnya, walaupun waktu masih kecil mereka sangat dekat. Aku terkejut, tapi tahu nenekku kadang bisa amat keras kepala.
Dia mengatakan saudarinya itu telah meminta maaf kepadanya karena sudah kesal pada nenekku yang mendapatkan seluruh uang asuransi ibu mereka ketika dia meninggal. Gertie mengatakan selama bertahun-tahun itu akhirnya dia menyadari bahwa nenekku sudah mengurus mereka, memberinya makan, dan merawatnya ketika menderita penyakitnya yang terakhir. Dia mengatakan kepada nenekku bahwa sekarang dia sadar ibu mereka sungguh melarat ketika nenek-nenekku membawanya ke rumah mereka, dan bahwa Grandma berhak mendapatkan uang asuransi itu.
Grandma belum berkata sepatah kata pun, tapi dia berjalan ke kamar tidurnya dan kembali dengan satu kotak rokok dan mengulurkannya kepada saudarinya itu. Gertie membuka kotak itu, yang memuat dua benda: satu kwitansi pemakaman ibu mereka senilai $399,95 dan sekeping uang lima sen.
"Apa ini?" tanya Gertie.
"Ibu punya polis asuransi senilai $400, dengan direktur pemakaman sebagai penerima uang. Tagihan pemakamannya $399,95. Ini adalah kepingan lima sen yang diberikan direktur pemakaman kepadaku sebagai kembalian, dan aku sudah menyimpannya untukmu selama bertahun-tahun ini sehingga kau akan mendapatkan sesuatu dari ibu kita!" jawab nenekku.
Gertie tak percaya dia telah membiarkan lima belas tahun pesta ulang tahun, liburan, saat-saat berbagi dengan saudara, serta perhatian berlalu hanya karena sekeping uang lima sen.
Mulai hari itu Grandma dan saudarinya berusaha menebus waktu yang telah hilang itu dengan lebih banyak lagi membuat cake cokelat dengan candy-bar icing. Sesudah hari itu Grandma tampak jauh lebih bahagia, dan aku mendapatkan nenek-bibi yang bahkan tak kuketahui keberadaannya, juga pasokan berlimpah cake cokelat dengan candy-bar icing.
Kami semua belajar bahwa kesombongan lebih mudah tertelan dengan apa pun yang mengandung cokelat
Bill Satterlee
Chicken Soup for The Chocolate Lover's Soul
Thursday, August 4, 2011
Aku Sangat Mencintainya
Pendeta sudah hampir selesai membacakan doa pada upacara pemakaman. Tiba-tiba pria berumur 78 tahun yang istrinya - teman hidupnya selama lima puluh tahun - meninggal dunia dan baru saja dimakamkan berseru dengan sedih, "Aduh, aduh, betapa besarnya cintaku kepadanya!"
Ratapan itu terasa sangat mengganggu ketenangan upacara yang berlangsung khusyuk itu. Para anggota keluarga dan teman-teman yang berdiri di sekeliling makam tampak kaget dan bingung karenanya. Anak-anak pria itu, semua sudah dewasa, berusaha menenangkannya. "Sudahlah, Ayah - kami mengerti. Sudah, tenanglah." Pria lansia itu menatap peti mati yang dengan perlahan-lahan diturunkan ke dalam liang makam, sementara pendeta mengakhiri doa. Setelah selesai, sanak keluarga dipersilahkan menaburkan tanah ke atas peti mati sebagai tanda bahwa maut merupakan akhir yang pasti. Hadirin secara bergiliran melakukannya, kecuali pria lansia itu. "Ya, ampun, aku sangat mencintainya!" ratapnya dengan suara keras. Ketiga anaknya berusaha lagi menenangkannya, tetapi ia terus saja beratap, "Aku mencintainya!"
Ketika para pelayat mulai beranjak hendak pergi, pria itu tetap saja berdiri di tempat semula sambil menatap ke dalam liang. Kini pendeta menghampirinya, "Saya tahu bagaimana perasaan Anda, tetapi kini sudah waktunya pergi. Kita semua harus pergi dari sini dan meneruskan kehidupan kita."
"Aduh, betapa besar cintaku kepadanya!" keluh pria malang itu dengan sedih. "Anda tidak mengerti," ujarnya kepada pendeta. "Saya pernah sekali hendak mengucapkannya kepadanya."
Dikutip dari A Cup of Chicken Soup for the Soul
by Hanoch McCarty, Ed. D.
Kelemahan terbesar dari kebanyakan manusia adalah keseganan untuk menyatakan pada orang lain betapa mereka menyayangi orang-orang itu sewaktu mereka masih hidup.O. A. Battista
Wednesday, August 3, 2011
Ketabahan yang Siap Pakai
Pada musim panas 1991, aku berlibur di Irlandia bersama suamiku. Sebagaimana lazimnya wisatawan Amerika, tentu saja kami mengunjungi Puri Blarney. Dan dengan sendirinya jika kita mengunjungi Puri Blarney, kita mencium Batu Blarney. Nah, untuk bisa sampai di tempat Batu Blarney, terlebih dulu aku harus mendaki sejumlah anak tangga yang sempit. Suda dari "sononya" aku takut berada di tempat yang tinggi dan terlebih-lebih lagi di ruangan sempit. Karenanya aku menyuruh suamiku naik dulu sendiri kemudian memberitahukan apakah menurut dia aku mampu melakukannya atau tidak. Ketika ia sudah kembali, aku bertanya, "Nah, bagaimana pendapatmu? Mampukah aku, menurutmu?" Sebelum suamiku sempat menjawab, dua wanita yang sudah berumur lanjut datang menghampiri dan berkata, "Jika kami saja sanggup, Anda pasti juga mampu!" aku pun melakukannya, dan aku mencium Batu Blarney!
Sekitar satu bulan sekembali dari Irlandia, aku diberitahu bahwa aku mengidap penyakit kanker payudara. Aku memerlukan perawatan dan kemoterapi. Dokter yang menangani berkewajiban memberitahukan segala hal yang bisa terjadi padaku sebagai dampak samping kemoterapi. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan rambutku rontok. Ditambah munta-muntah, mencret, demam tinggi, kejang rahang, dan sebagainya. Kemudian ia bertanya, "Anda sudah siap untuk mulai?" Siap? Setelah mendengar segala yang dipaparkannya itu?
Perasaanku menjadi semakin tidak menentu, sangat gelisah, dan ketakutan, ketika aku dengan ditemani suamiku duduk di ruang tunggu, menanti giliran untuk menjalani perawatan. Aku berpaling ke suamiku dan bertanya, "Menurutmu, mampukah aku menjalaninya?" Berhadapan dengan kami, duduk dua wanita lanjut usia yang baru saja selesai menjalani kemoterapi. Suamiku mengenggam tanganku dan berkata, "Ini akan persis sama seperti ketika di Puri Blarney. Jika mereka berdua bisa, kau pasti mampu!" Dan ternyata memang begitu.
Tahukah apa yang benar-benar hebat tentang ketabahan? Ketabahan muncul apabila kita memerlukannya!
Dikutip dari A Cup of Chicken Soup for The Soul
by Maureen Corral
Dia Bukan Ayah Tiriku!
Ibuku meningal dunia ketika aku berumur delapan tahun. Kami semua sangat sedih. Enam bulan kemudian, ayahku berkenalan dengan Cathy. Cathy mempunyai dua anak, Megan dan Griffin. Begitu berjumpa pertama kali, aku langsung menyayangi mereka. Tetapi waktu itu aku belum tahu, betapa besar kasih sayangku itu.
Satu setengah tahun kemudian, ayahku menikahi Cathy. Mereka benar-benar saling mencinati. Ketika upacara pernikahan, aku sadar bahwa aku sangat sayang kepada Megan dan Griffin. Setelah itu, sampai akhirnya kami menemukan rumah baru yang cukup besar untuk menampung keluarga yang baru, kami tinggal berpindah-pindah antara rumah kami yang lama dan rumah Cathy. Sementara itu berlangsung proses pembauran kedua keluarga menjadi satu keluarga baru. Pada suatu malam, kami berada di rumah Cathy dan anak-anak berbaris untuk memberi ciuman kepada Cathy. Griffin mendapat giliran paling belakang. Setelah anak lelaki itu mencium Cathy, ibunya mengatakan, "Griff, ciumlah ayah tirimu."
Griffin sangat tersinggung dan mengatakan, "Dia bukan ayah tiriku! Dia benar-benar ayahku!"
Dikutip dari A Cup of Chicken Soup for the Soul
by Jayne Kelley
Penghargaan paling membekas adalah yang diberikan kepada Anda oleh keluarga Anda sendiriO.A. Battista
Tuesday, August 2, 2011
Welcome August!!
Yupzzz.....welcome to new month, welcome August!!
Bulan baru, Agustus, tak disangka ternyata kita sudah memasuki bulan ke delapan di tahun 2011 ini. Tidak ada hal yang menarik untuk saya bagikan kali ini, hanya sekedar ingin menyapa para blogger yang mungkin malah sudah bosan melihat isi blog saya yang "itu-itu saja". Yaa....beberapa waktu ini saya sedang terfokus mulai dari UAS semester genap, sampai tak terasa minggu depan malah sudah UAS semester pendek. Dan karena saya mulai gencar-gencarnya mencari k-drama terbaru yang menarik.
Dan karenanya saya bahkan hampir setiap hari tidur diatas jam 12 malam. Bukan karena belajar malah karena nonton. Sangat tidak saya sarankan kepada teman-teman.
Untuk beberapa waktu kedepan, saya berharap dapat meluangkan waktu buat mengisi blogku ini.
Salam hangat buat sobat blogger,
Gb
Friday, July 1, 2011
Mujizat itu masih ada, saya rasakan! (Part 2)
Yaa...kali ini mukjizat itu kembali menghampiri saya!
Entah mimpi apa saya semalam, tapi satu hal yang saya tahu pasti, ketika kita menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yesus, maka percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia!
Kali ini untuk yang kedua kalinya dompet saya HILANG!! (part2) lagi. Bukan karena saya menjatuhkannya, mungkin karena saya yang terlalu mengabaikan hal-hal kecil.
Cerita bermula dari hari Rabu pagi kemarin saat libur Isra Mi'raj, sekitar jam 5 pagi. Saya dan kawan-kawan saya (Fantastic 4 kurang 1 orang ;)), Lina dan Tefilla, kami lari pagi di Engku Putri (alun-alun), samping kantor walikota. Ini yang pertama kalinya saya lari pagi disana karena jujur, selama di Batam saya belum pernah lari pagi. Dompet dan handphone saya letakkan dalam jok motor, kemudian saya tutupi pakai jaket hitam saya. Lalu kami pun mulai berolahraga bersama.
Saat itu kami begitu ceria, mungkin karena kami jarang bisa mendapatkan kesempatan bersama seperti saat itu. Setelah itu, sekitar jam 6.15 kami memutuskan untuk menyudahi olahraga kami, lalu kembali ke parkiran.
Saat itu saya bingung, jaket hitam saya ada diluar jok motor, tepatnya ada diatas helm saya.
Me : Tef, kamu tadi yang keluarin jaketku dari motor??
Tef : Hei, mana ada! Kamu kali yang keluarin sendiri dari motor?
Lina : Kenapa mon?
Me : Ga, bingung aja, perasaan tadi aku udah masukin jaketku ke dalam deh...
Tef : Mana ada, itu kamu sendiri yang keluarin.
Me : Nggaklah, aku yakin kali kok tadi udah ku masukkin, ga mungkin ada diluar.
Tef : Ah, lupa kali kamu mon,
Me : Hee......kayaknya ga deh... Ya dah deh...
Lina : Mon, coba cek dompet kamu masih ada ga?
Me : Ehh.... (sambil membuka jok motorku) .....ga ad Lina!!
Lina : Haa?? Ga ada?? coba cek lagi!
Me : Iya ga ada! (sambil membongkar isi jok motor) hwaaaaa.....brarti ini karena ada yang maling
Tef : Ahh...yang bener mon! coba cek lagi
Me : Ga ada filla....brarti iya, itu orang yang ambil, dia bongkar motorku, terus jaketku ga dimasukkan lagi kedalam.
Lina : Ya udah, kita lapor polisi terdekat saja!
Begitulah tepatnya situasi dan kondisi yang saya hadapi saat itu. Saya tidak menangis, saya marah, bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya saya sebutkan, yang telah mendukakan hati Roh Kudus.
Me: Siapa sih Tuhannya, sampai kayak gitu sikap dan perbuatannya, dasar!
(dengan suara yang cukup besar menurut saya)
Ya, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut saya. Mungkin itu karena saya terlalu sensitif soal agama, mengingat masa lalu yang saya buat tentang kepercayaan.
Teman saya, filla menenangkan hatiku. Lalu kami pun lapor ke kantor polisi. Tapi ya seperti biasa, setidaknya saya harus tahu no. KTP, kerangka mesin untuk STNK, dan nomor rekening untuk ATM. Setelah itu saya pulang ke kost.
Sorenya saya ada janji untuk berenang bersama kawan-kawan COG di Hotel Panorama. Ya, sepanjang hari itu saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, berusaha tersenyum. Hingga malam, saya merasa capai sendiri. Saking lelahnya, belum jam 10 malam, saya sudah tidur. Kata teman sih itu karena terlalu banyak pikiran, dan saya juga tidak menyangkalnya.
Satu hari, Kamis, saya tidak mau memikirkannya. Tapi hari ini, pagi ini, ketika saya sampai dikantor dan memulai saat teduh saya dengan Renungan Pagi, teman kantor saya langsung menghampiri, mengatakan bahwa ada orang yang menemukan surat-surat seperti STNK, KTP, SIM milik saya. Betapa senang bukan mainnya. Sungguh sukacita yang luar biasa, bagi saya, STNK, KTP, SIM, dan surat-surat berharga lainnya itu sangat penting, jika dibandingkan dengan uang yang setiap saat dapat kita cari. Sungguh sukacita yang luar biasa. Lalu saya hubungi bapak itu, lalu mengatakan kapan ada waktu agar saya yang menghampirinya dan mengambil barang-barang saya yang hilang itu dan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Meski bapak itu bilang bahwa yang dia temukan hanyalah sebungkus kertas yang berisi surat-surat seperti STNK, KTP, SIM, dan kartu lainnya, saya merasa sangat bersyukur.
Sungguh terima kasih ya, Tuhan! Karena kasih-Mu yang begitu luar biasa dalam hidupku! Selalu baru sepanjang waktu ♥♥♥
For me, U're number ONE!!! ♥♥♥
Subscribe to:
Posts (Atom)





















































