Thursday, April 28, 2011

Ada Malaikat Mendatangiku

Pengalamanku memotret anak-anak sudah lebih dari dua puluh tahun. Pada suatu kesempatan khusus, yaitu Hari Thanksgiving (Hari Bersyukur), salah seorang dari mereka menghadiahkan sesuatu yang istimewa kepadaku. Ia adalah seorang bayi mungil berumur enam bulan yang bersandar di keretanya.

"Keadaan Emily tidak begitu baik hari ini," kata ibunya. Bayi itu memandang kelihatannya seperti sedang demam. Setiap kali kepalanya terjatuh ke samping sementara ia berusaha duduk tegak. Beberapa kali aku mencoba memotretnya, tetapi tidak berhasil. Akhirnya aku mendekati muka bayi itu lalu berbicara kepadanya. "Kau kelihatan seperti malaikat cilik," kataku.


Tiba-tiba sikap bayi itu berubah, tidak lagi bergerak-gerak lemah. Ia menatapku seakan-akan hendak mengatakan, "Aku tidak apa-apa, cuma keadaanku saja yang hari ini sedang tidak enak." Karena Emily kelihatan seperti malaikat cilik, aku lantas memutuskan untuk memotretnya dengan didandani seperti malaikat.


Diantara perlengkapan studioku ada sepasang sayap putih mulus, terbuat dari bulu yang halus, lembut dan putih bersih. Di ubun-ubunnya kuletakkan mahkota kecil yang terbuat dari rangkaian bunga. Aku pun mulai sibuk memotret malaikat cilikku itu, yang duduk dengan sikap mendekam di kursi di tengah dekor awan.

Selama itu tidak kuperhatikan bahwa ibunya menangis dengan suara lirih. "Ia memang malaikat. Baru saja kemarin kami mengetahui bahwa ia dilahirkan dengan cacat otak yang sangat jarang terjadi. Hari Thanksgiving saat ini adalah yang pertama dan terakhir kami bisa bersama-sama," kata ibunya sambil terus menangis. "Kemungkinan hidup bayi dengan cacat seperti itu tidak sampai setahun. Sewaktu hamil, saya mengikuti segala nasihat dokter. Tidak merokok, mengatur pola makan sesuai dengan yang dianjurkan, tetapi otaknya ternyata tidak berkembang lebih lanjut daripada keadaan ketika dilahirkan. Kata dokter hanya ada 435 kasus cacat otak seperti ini sepanjang yang dikethui.


"Anda melihat Emily yang sebenarnya disini, malaikat cilik, dan kami sangat sayang padanya. Dia adalah malaikat cilik kami yang turun ke bumi untuk memberitahu kami bahwa Tuhan menghendaki agar kami bersyukur atas apa yang kami miliki. Kadang-kadang, sewaktu kita sedang mengajaknya berbicara, ia lantas menjadi begitu tenang dan damai. Ia pun mengoceh dalam bahasa bayinya. Rasanya kita nyaris bisa menangkap kata-katanya, seakan-akan ia memang hendak mengatakan sesuatu kepada kita. Foto-foto ini benar-benar sangat bermakna. Kami tidak tahu, masih berapa lama lagi ia ada bersama kami. Anda telah mengabadikan malaikat cilik kami."


Leherku terasa seperti tersumbat mendengar penuturan itu. Dengan suara tersentak serak karena terharu, aku berkata. "Terima kasih atas kesempatan berbagi pengalaman ini. Saya bersyukur bahwa malaikat cilik ini muncul menghampiri saya!"

Larry Miller

A Cup of the Chicken Soup for The Soul

0 komentar:

Post a Comment